Kota Bogor [11/9/2025]- Bebas Buang Air Besar Sembarangan Kota Bogor. Anggota DPRD Kota Bogor, Dedi Mulyono, menyoroti tantangan berat pengelolaan limbah di kawasan padat penduduk. Untuk mengejar target 100% Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan, Dedi mendorong percepatan pembangunan septic tank komunal melalui tiga pilar solusi terintegrasi.
Dedi mengungkapkan, kendala utama di lapangan, khususnya wilayah Bogor Selatan, bukan hanya soal perilaku warga, melainkan keterbatasan lahan. Banyak rumah di gang sempit yang tidak memiliki ruang untuk septic tank individu, sehingga limbah domestik sering terbuang langsung ke drainase atau sungai.
“Di lapangan, warga ingin hidup sehat tapi lahannya tidak ada. Solusi paling rasional adalah septic tank komunal, di mana satu tangki besar digunakan bersama. Ini soal martabat dan lingkungan yang bersih,” ujar Dedi Mulyono kepada wartawan, Kamis (11/9/2025).
Politisi PKS ini memetakan tiga pilar solusi untuk memastikan program ini berhasil dan tidak mangkrak:
1. Pilar Teknis: Pemisahan Saluran Pipa
Dedi menekankan pentingnya standarisasi teknis pemipaan. Saat ini, banyak limbah rumah tangga masih bercampur dengan drainase air hujan, sehingga kerap meluap saat hujan deras.
“Kita dorong pembangunan sistem piping yang terpisah. Limbah domestik atau tinja harus punya jalur sendiri ke septic tank komunal, tidak boleh bercampur dengan air abu-abu (grey water) atau drainase hujan,” tegasnya.

2. Pilar Sosial: Edukasi Teknologi Ramah Lingkungan
Untuk mengatasi penolakan warga yang khawatir akan bau atau kotor, Dedi mengusulkan pendekatan sosial sejak awal perencanaan.
“Solusinya adalah sosialisasi teknologi bioseptic yang ramah lingkungan dan tertutup rapat. Kita libatkan tokoh masyarakat agar warga yakin bahwa fasilitas ini aman dan justru meningkatkan kualitas hidup mereka,” jelasnya.
3. Pilar Kelembagaan: Sinergi dengan BUMD
Sebagai anggota Badan Anggaran (Banggar), Dedi mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi manajemen pemeliharaan. Ia tidak ingin infrastruktur mahal menjadi rusak karena tidak ada yang merawat.
“Saya mendorong kerja sama dengan PUPR melalui Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2). Pengosongan harus dilakukan secara periodik dan profesional agar fasilitas ini berkelanjutan,” tambah Anggota Komisi IV ini.
Baca Juga : Dedi Mulyono usulkan Raperda Urban Farming untuk Lawan Stunting di Kota Bogor
Dedi memastikan akan mengawal pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana pendamping APBD agar tepat sasaran. Ia berharap sinergi ini menjadikan Bogor sebagai kota yang benar-benar bersih hingga ke pelosok gang.
“Ini adalah investasi infrastruktur jangka panjang. Kita benahi salurannya, kita libatkan warganya, dan kita jamin perawatannya. Kita ingin warga Bogor Selatan hidup di lingkungan yang sehat dan bermartabat,” pungkas Dedi.
Bebas Buang Air Besar Sembarangan Kota Bogor




