Prevalensi stunting di kota bogor masih tinggi, DPRD Dorong Tiap RW Punya Kebun Gizi Mandiri

Prevalensi stunting di kota bogor masih tinggi, DPRD Dorong Tiap RW Punya Kebun Gizi Mandiri

Kota Bogor [1/9/2025] – Prevalensi stunting di kota bogor masih tinggi. Anggota DPRD Kota Bogor, Dedi Mulyono, mendorong penguatan program urban farming atau pertanian perkotaan di wilayah Bogor Selatan. Bukan sekadar penghijauan, program ini ditargetkan menjadi senjata utama memutus rantai kemiskinan dan mengejar target zero stunting di Kota Hujan.

Dedi menekankan pentingnya kemandirian pangan di tingkat terkecil, yakni Rukun Warga (RW). Menurutnya, halaman rumah warga harus menjadi sumber gizi utama bagi keluarga, terutama bagi mereka yang masuk dalam kategori ekonomi rendah.

“Saya ingin setiap RW di Bogor Selatan punya kemandirian pangan. Kita harus bisa memutus rantai kemiskinan dan stunting secara mandiri, langsung dari halaman rumah warga sendiri,” ujar Dedi Mulyono kepada wartawan, Senin (1/9/2026).

Anggota Komisi I DPRD Kota Bogor ini menjelaskan bahwa urban farming memiliki potensi besar jika dikelola dengan serius. Namun, ia memberikan catatan kritis: warga tidak boleh asal menanam. Program ini harus diarahkan pada komoditas yang memiliki daya intervensi gizi tinggi.

“Urban farming itu efektif memutus stunting, tapi syaratnya tidak boleh menanam ‘sembarang sayur’. Fokusnya harus pada Intervensi Gizi Spesifik. Apa yang ditanam harus yang dibutuhkan oleh anak-anak kita agar tidak stunting,” tegasnya.

Baca Juga : Jumlah UMKM yang memiliki NIB baru tercapai 29,4%, Dedi Mulyono soroti lambannya kinerja DPMPTSP

Politisi PKS ini menyarankan agar jenis tanaman yang dikembangkan adalah ‘superfood’ lokal seperti kelor, bayam merah, hingga kacang-kacangan. Tak hanya sayur, ia juga mendorong budidaya protein hewani skala rumahan seperti ikan dalam ember (Budidamber).

Sebagai anggota Badan Anggaran (Banggar), Dedi memastikan akan mengawal alokasi anggaran agar program ketahanan pangan ini bisa menyentuh level RW secara merata. Ia menilai, investasi pada kemandirian pangan jauh lebih efektif dibanding terus-menerus memberikan bantuan sosial konsumtif.

“Daripada anggaran habis untuk bantuan yang sekali makan hilang, lebih baik kita investasikan ke sarana hidroponik atau bibit ikan di tiap RW. Hasilnya jelas: gizi terjaga, ekonomi warga terbantu, dan anak-anak Bogor Selatan tumbuh sehat,” pungkasnya.

Hingga saat ini, wilayah Bogor Selatan terus menjadi fokus perhatian pemerintah kota terkait penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem melalui sinkronisasi data desil yang terus diperbarui.

Copyright © 2026 Dedi Mulyono